Catur Braya Nyepi: Mengenal 4 Pantangan Umat Hindu Pada Hari Nyepi

NyepiHari RayaBaliPantangan

Catur Braya Nyepi: Mengenal 4 Pantangan Umat Hindu Pada Hari Nyepi

Bali merupakan sebuah provinsi sekaligus pulau cantik yang ada di Indonesia, terletak antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Disebut indah, keindahannya ini sudah terkenal mancanegara, dan banyak turis-turis asing yang datang sekadar untuk menikmati keindahannya. Selain alamnya yang indah, kebudayaan di Bali juga kental dan banyak hari-hari raya serta upacara adat yang masih dilestarikan sampai sekarang. Misalnya saja, Hari Nyepi, yaitu hari raya umat Hindu, yang rutin diadakan dengan khidmat di Bali.

bali-1

Hari Nyepi merupakan Tahun Baru Hindu, berdasarkan penanggalan/kalender Saka, jadi mulai mengawali tahun baru dengan ketenangan. Semua kegiatan termasuk pelayanan umum seperti di Bandara akan tutup pada hari tersebut. Meskipun begitu, rumah sakit tetap buka kok. Tujuan perayaan ini adalah memohon kepada Tuhan untuk menyucikan alam manusia dan alam semesta.

Kalau kamu kebetulan datang ke Bali pada saat nyepi, ada beberapa pantangan yang tidak boleh kamu lakukan nih. Hal itu tentunya sebagai bentuk toleransi umat beragama, dan menghormati adat serta kebudayaan yang ada di kota yang kita datangi. Sejumlah pantangan itu disebut Catur Brata Nyepi, yaitu empat pantangan yang tidak boleh dilakukan selama Hari Nyepi di Bali. Apa saja larangan tersebut?

Amati Karya (Tidak boleh bekerja)

laptop
Poin pertama dari larangan Hari Nyepi di Bali adalah Amati Karya, yaitu larangan untuk bekerja atau melakukan aktivitas. Jadi pada saat Hari Nyepi di Bali berlangsung, semua penduduk akan berdiam di rumah, tidak ada yang keluar rumah untuk bekerja. Tujuannya, momen tersebut dapat menjadi waktu perenungan dan introspeksi diri atas kesalahan yang sudah diperbuat.

Amati Geni (Tidak boleh menyalakan api)

korek-api
Larangan Hari Nyepi di Bali yang kedua adalah Amati Geni, alias larangan untuk menyalakan api. Api ini mengacu pada api yang ada dalam diri masing-masing orang, yang wujudnya berupa kemarahan, iri hati, serta pikiran-pikiran yang tidak baik. Karena itu, pada Hari Nyepi di Bali dilarang untuk menyalakan api, dan juga lampu.

Tapi akan ada pengecualian kalau di rumahmu terdapat bayi, atau anak-anak yang masih kecil ya. Kalau kamu menginap di hotel-hotel Bali selama Hari Nyepi berlangsung, lampu yang diperbolehkan menyala hanyalah lampu kamar, dan tidak dengan lampu-lampu di koridor atau pun bagian hotel lainnya. Karena itu, biasanya pihak hotel akan menyediakan senter bagi para tamunya.

Amati Lelungan (Tidak boleh berpergian)

baca-buku-di-kasur
Larangan Hari Nyepi di Bali juga termasuk tidak boleh bepergian, yaitu berjalan-jalan atau melancong. Hal tersebut disebabkan kepercayaan bahwa bepergian atau melancong akan mengganggu dan mengotori alam. Karena selama ini manusia sudah beraktivitas dan bepergian ke sana ke mari, khusus Hari Nyepi mereka membiarkan bumi “beristirahat”. Ini juga sebagai bentuk permohonan maaf pada bumi karena selama ini manusia merusak alam, juga demi kelangsungan hidupnya.

Amati Lelanguan (Tidak boleh bersenang senang)

meditasi
Di poin keempat dari larangan Hari Nyepi ini, para umat diingatkan untuk tidak bersenang-senang, dan fokus serta memusatkan pikiran pada Sang Hyang Widhi, yaitu Tuhan Yang Maha Esa bagi pemeluk Agama Hindu. Karena seringkali, manusia larut dalam kesenangan dunia, dan lupa bahwa tujuan hidup utama mereka adalah kembali kepada Tuhan. Karena itu, pada momen Hari Nyepi, semua aktivitas mulai dari bekerja sampai bersenang-senang ditangguhkan. Semua umat kembali kepada Tuhan, dan melepaskan diri dari hal-hal duniawi.

Nah, Hari Nyepi tahun 2019 ini akan jatuh pada tanggal 7 sampai 8 Maret 2019, pukul 6 pagi sampai 6 pagi di hari berikutnya. Keempat pantangan tersebut tidak hanya berlaku di Bali ya, tapi juga bagi semua pemeluk agama Hindu yang merayakannya. Bagi kamu yang merencanakan liburan ke Bali, jangan lupa perhatikan tanggalan ini ya. Kalau kebetulan tanggal tersebut masuk ke dalam jadwalmu ke Bali, hormati perayaan mereka dan ikuti tata caranya ya, karena toleransi dan keberagaman itu indah.

artikel ini ditulis oleh Irene Gianov

Geraldy Tony

Geraldy Tony

Content Editor at Alamat.com Blog

Jakarta, Indonesia